Indonesia Negara Kedua Pengunjung ‘Setia’ Situs Dewasa

Kemudahan dalam mengakses internet dewasa ini membuat siapapun, kapanpun, dan dimanapun bisa mengakses internet sesuka hati. Namun yang sangat disayangkan tidak semua orang menggunakan internet dengan bijak. Meskipun peluang untuk menggunakan intrnet kearah yang positif sangat terbuka lebar.

Terus merajalelanya tayangan konten dewasa di dunia maya. Serta diimbangi pesatnya perkembangan teknologi turut membantu kemudahan masyarakat mengakses tayangan terlarang tersebut. Efeknya anak di bawah umur pun dapat dengan mudah menonton video panas tersebut.

Berdasar data ECPAT Indonesia, angka konsumsi konten pornografi masyarakat Indonesia memiliki angka mengkhawatirkan. Dari hasil survei situs penyedia video dewasa asal Amerika, Indonesia menempati rangking dua terbanyak pengakses video porno setelah India. Mengingat kedua negara ini termasuk 4 besar negara paling banyak penduduknya.

Baca Juga: Download Uc Browser Fast Download Paling Baru

Dari data tersebut diketahui bahwa mayoritas pengakses konten dewasa di Indonesia adalah generasi muda dan sebagian kecil masyarakat dewasa hingga yang telah berumur.

Data tersebut sangat memperhatinkan mengingat dampak dari aktivitas kunjungan ke situs dewasa membuat banyak orang hilang kontrol. Terbukti kasus pemerkosaan dan pencabulan terhadap anak adalah dampak dari penggunaan internet yang tidak bijak atau sering mengunjungi situs dewasa.

Sementara dari data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukan, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 132 juta orang. Terdiri dari anak-anak berusia 10-14 tahun yang mengakses internet sekitar 768 ribu orang. Untuk usia 15-19 tahun tingkat akses internet mencapai 12,5 juta orang. Kemudian dari hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 pelajar, total pengakses konten pornografi hampir mencapai angka maksimal 100 persen.

Kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak menjadi faktor utama dalam hal penggunaan jejaring internet kearah yang negativ. Apalagi sekarang anak-anak usia di bawah 17 tahun sudah memeiliki smart phone. Meskipun tidak semuanya menggunakan kearah yang menyeleweng, akan tetapi sangat berpotensi melakukan tindakan yang tidak sewajarnya dilakukan.

Perlu sekiranya ada pengawasan yang ketat dari orang tua. Pemerintah juga tidak boleh abay dalam menyikapi masalah ini, ini merupakan masalah sosial yang harus diambil tindakan untuk meredam tradisi yang tak bijak ini.