HEMAT pangkal SELAMAT: Hemat Energi Selamatkan Diri

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karenanya manusia diberi tugas untuk menjadi penjaga dan pengelola dunia, dibekali Tuhan dengan akal-pikiran. Sebagai pengelola dunia, sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjalankan tugas sebaik-baiknya, salah satunya adalah menjaga keseimbangan lingkungan hidup.

Selain akal-pikiran, Tuhan juga membekali manusia dengan nafsu. Ada nafsu baik seperti nafsu untuk memperoleh makanan, untuk memiliki keturunan, dan sebagainya; tapi juga nafsu yang buruk. Salah satunya adalah keinginan untuk berkuasa, bersikap sewenang-wenang, dan egois. Didorong oleh nafsu untuk berkuasa tersebut, manusia sering kali menyalahgunakan tugasnya sebagai penjaga dan pengelola dunia, serta menggunakan segala sesuatu yang ada di Bumi dengan seenaknya, tanpa memikirkan dampak panjang dari perbuatan tersebut.

Namun seperti halnya yin dan yang, atau koin yang memiliki dua sisi, nafsu untuk berkuasa ini juga memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan dunia. Buktinya, ketika Bumi hanya dihuni oleh hewan dan tumbuhan, perkembangan berjalan dengan sangat lambat. Tetapi ketika manusia mulai hadir di alam semesta, perkembangan Bumi dan kehidupan di dalamnya berjalan lebih cepat. Dunia berkembang, alam semesta bekerja semakin optimal. Semua terjadi karena dorongan nafsu manusia yang selalu ingin tumbuh dan berkembang lebih baik lagi. Karena sejatinya, kehidupan memang sebuah evolusi (berkembang secara perlahan ke arah yang lebih baik).

Evolusi kehidupan ini kemudian menyebabkan jumlah manusia terus bertambah seiring berjalannya waktu, dengan percepatan yang lebih tinggi. Karena di dalam evolusi, ada revolusi (perubahan yang terjadi dengan cepat). Saat ini sudah ada lebih dari 7 milyar manusia di Bumi, dan ada lebih dari 250 juta orang di Indonesia. Pertumbuhan jumlah manusia inilah yang  mengakibatkan berkurangnya jumlah serta keaneka-ragaman spesies tumbuhan dan hewan.

Hewan dan tumbuhan digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Flora dan fauna diburu. Kekayaan alam seperti emas, batu bara, dan minyak bumi, semakin terkuras dengan cepat setelah revolusi industri. Bahkan dimanfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi orang-orang berkuasa. Hutan-hutan dihancurkan agar bisa membuat lahan baru untuk industri atau perumahan yang nantinya akan dihuni manusia, dan para hewan yang tinggal di hutan lama-kelamaan punah karena kehilangan ekosistemnya. Karena nafsu tamak inilah manusia dan alam tak lagi bersahabat baik, harmoni kehidupan pun semakin kacau.

Dan akhirnya, manusia sampai pada masa ketika mereka mulai menyadari pentingnya keseimbangan antar para makhluk hidup, serta keterbatasan kekayaan alam yang ada di Bumi. Namun sayang, kesadaran itu datang terlambat, menyisakan penyesalan di hati. Manusia mulai dihantui situasi kelangkaan energi yang ada Bumi. Semua itu terjadi karena di masa lalu manusia terlalu boros dan rakus dalam pengelolaan energi. Mereka bertindak hanya untuk memenuhi nafsu jangka pendek, tanpa peduli kesulitan yang akan didapatkan di masa depan.

Kelangkaan energi ini menyebabkan banyak pihak mulai khawatir. Kajian ilmiah dilakukan, kampanye sosial semakin dikuatkan, dan berbagai organisasi peduli lingkungan didirikan. Beberapa buku dan film mulai mengangkat kekhawatiran ini melalui kisah fiksi yang dikemas sedemikian rupa. Kekhawatiran berlebihan mulai tampak dimana-mana. Didorong oleh revolusi telekomunikasi dan informatika, rasa khawatir semakin cepat merebak dan meluas ke seluruh penjuru dunia.

Mungkin perlu kita sadari, mengatasi kelangkaan energi tak perlu dengan sikap khawatir berlebihan, tetapi justru harus dilandasi dengan keyakinan. Kekhawatiran berlebihan, jangan-jangan justru jadi bumerang, menghantam balik tak terkendali. Keyakinan perlu ditanamkan,  bahwa Tuhan telah menyediakan alam bagi manusia, serta memberikan akal-pikiran untuk mengelola sebaik-baiknya. Perlu ditanamkan pemahaman secara total, bahwa materi dan energi akan selalu ada di dunia, hanya saja perlu cara pengelolaan yang lebih baik.

Memahami permasalahan energi dan materi secara total, bukan hanya yang ada di permukaan saja, tapi juga hakekat energi itu sendiri. Menurut hukum Ilmu Kimia, materi maupun energi sejatinya bersifat kekal. Substansi materi tidak pernah hilang, hanya berubah wujud menjadi materi yang lain, atau menjadi energi. Demikian pula substansi energi, tidak pernah hilang atau habis, hanya berubah menjadi materi atau bentuk energi yang lain. Fisikawan terkemuka Albert Einstein dalam Teori Relativitasnya yang terkenal sudah menyatakan ?sampai saat ini tak terbantahkan? bahwa energi adalah materi, dan materi adalah energi: E = mc2. Dengan berbekal ilmu (hasil olahan akal-pikiran manusia) dan pengetahuan tentang materi maupun energi ini, seharusnya manusia semakin yakin bahwa energi tidak akan mudah hilang ataupun habis begitu saja.

Bencana alam selalu terjadi, tetapi memang itulah cara alam mengatur keseimbangan semesta. Bencana (revolusi) alam adalah cara alam mengubah materi menjadi energi, atau sebaliknya, energi menjadi materi. Berbeda dengan kerusakan alam, yang sepenuhnya adalah peran dan tanggung-jawab manusia. Tak ada mahluk lain yang mampu merusak alam, kecuali manusia. Maka, manusia pula yang bertangggung-jawab untuk memperbaikinya.

Tanggung-jawab manusia sebagai pengelola dunia, perlu ditata bersama-sama secara lebih baik lagi. Karena energi adalah kebutuhan semua makhluk hidup di dunia, maka hubungan manusia dengan alam perlu diperbaiki lagi, sehingga harmoni kehidupan dapat berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Tanggung-jawab manusia akan kelangkaan energi ini bisa diatasi jika manusia sadar untuk berhemat. Karena selain dibekali nafsu, manusia juga memiliki hati nurani, jadi sudah sepantasnya jika manusia juga memiliki sifat hemat. Hemat akan energi, untuk keselamatan diri. Karena Hemat pangkal Selamat.

Manusia sudah dibekali akal, ilmu, iman, kekuatan, dan keyakinan. Mengembangkan terus-menerus kemampuan akal-pikiran (ilmu-pengetahuan), beriman pada Kuasa Tuhan, yakin pada kekuatan hati-nurani, serta saling percaya antara sesama manusia. Harus dibangun keyakinan, bahwa masalah kelangkaan ini akan bisa terselesaikan dengan baik.

Mari mulai dengan yakin. Kekhawatiran berlebihan tidak akan memperbaiki keadaan, tetapi dengan berhemat yang dilandasi oleh keyakinan, bukan hal yang mustahil jika manusia bisa membangun Bumi dengan lebih baik.

Hemat Energi secara TOTAL, perlu dipahami dan disikapi secara TOTAL. Jangan yakin setengah-setengah, tapi yakin TOTAL.