Resensi Novel Aroma Karsa

Resensi Aroma Karsa :

“Petualangan Dalam Berbagai Aroma”

 

Judul Buku : Aroma Karsa

Nama Penulis : Dee Lestari

Nama Penerbit : Bentang Pustaka

Nama Pengulas : Ni Kadek Emik Sapitri

 

Ulasan :

 

Siapa yang tak kenal Janirah Prayagung? Seorang wanita abdi keraton yang karena kecerdikan (dan juga kelicikannya) berhasil menjelma menjadi pengusaha sukses sekaligus pemilik pabrik bernama Kemara. Setelah ia meninggal, banyak orang yang sepakat bahwa ia telah menitis pada cucunya, Raras Widyani Prayagung. Sikap dan sifat mereka sangatlah mirip.

 

Raras sangat mengagumi eyangnya itu. Salah satu yang tak bisa ia lupakan dari Eyang adalah cerita tentang Puspa Karsa, tanaman bunga misterius berkekuatan mahadahsyat. Raras sudah sering mendengar dongeng Puspa Karsa sejak ia masih kecil. Namun, menjelang kematian Eyang, wanita tua itu pun mengaku pada Raras kalau Puspa Karsa bukanlah dongeng dan meminta Raras untuk menemukannya. Saat itu, Raras berumur 18 tahun dan memiliki ambisi yang kuat untuk menerima permintaan terakhir eyangnya.

 

Salah satu faktor penyebab kedekatan Raras dengan eyangnya adalah Ayah Raras yang tidak becus. Karenanyalah, Kemara sempat mengalami krisis sehingga Raras harus mengambil alih Kemara saat umurnya 25 tahun. Lima tahun kemudian, Raras sukses membawa Kemara menjadi perusahaan jamu dan kosmetik terbaik di Indonesia.

 

Meskipun Kemara telah sukses besar, Raras tidak pernah lupa akan impiannya menemukan Puspa Karsa. Diam-diam ia telah menyusun tim ekspedisi untuk mencari tanaman bunga tersebut. Ia mencari beberapa orang kenalan eyangnya yang sekiranya bisa diandalkan.

 

Setelah timnya mengumpulkan cukup kisah melalui prasasti dan lontar kuno, Raras bisa memastikan bahwa Puspa Karsa berada di Gunung Lawu. Ia dan tim ekspedisinya pun berangkat ke sana dengan persiapan lengkap. Sayangnya mereka tak tahu apa yang akan mereka hadapi. Mereka diserang oleh berbagai makhluk. Beberapa anggota timnya meninggal. Raras selamat meski pingsan dua hari. Tidak pernah ada yang tahu kejadian pastinya. Orang-orang hanya tahu kalau jalan yang tim itu lalui terkenal angker. Para tim juga kompak tutup mulut ke media masa.

 

Raras sadar telah membuat kesalahan. Kecelakaan pada ekspedisi pertama itu membuatnya kakinya lumpuh seumur hidup. Namun, seorang Raras Prayagung tidak pernah kapok. Ia kemudian teringat bahwa Puspa Karsa akan menampakan dirinya pada hidung yang tepat. Untuk itu, Raras berusaha mencari orang yang memiliki penciuman tajam. Berkat rencana liciknya, ia berhasil mengadopsi bayi perempuan yang memiliki penciuman luar biasa. Bayi itu ia beri nama Tanaya Suma yang berarti Anak Bunga. Karena kesensitifan penciumannya, Suma harus mengonsumsi obat epilepsi agar bisa beraktivitas normal.

 

Saat Suma menginjak usia 26 tahun, ia telah menjadi peracik parfum andalan Kemara. Produk andalannya bernama Puspa Ananta. Sialnya, ada seorang peracik parfum amatir yang berhasil membajak Puspa Ananta. Orang itu bekerja di Attarwalla, sebuah toko yang menjual parfum refill tiruan. Dialah Jati Wesi, si hidung tikus.

 

Jati adalah pemuda sebaya Suma. Sejak kecil, ia hidup di TPA Bantar Gerbang. Ia tak pernah mengenal orang tuanya. Sejak kecil, ia diasuh oleh Nurdin, lelaki yang rakus dan tamak. Kata Nurdin, Ayah Jati bernama Anung. Anung adalah seorang penghuni lapas yang sering linglung. Banyak yang bilang ia gila karena membunuh istrinya. Kata Nurdin ia adalah penyelamat Jati. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari Anung si pembunuh itu. Jati hanya bisa pasrah, namun diam-diam ia sering menjenguk Anung di lapas itu.

 

Kepopuleran Jati mencuat sejak ia berhasil menemukan mayat seorang bapak-bapak bernama Aan yang terkubur sedalam satu setengah meter di tumpukan sampah TPA Bantar Gerbang. Dari sanalah ia mengenal Komandan Mada, orang yang sama dengan yang menawarinya memilih hukuman atas tindakannya memalsukan Puspa Ananta. Ia diminta memilih penjara dan denda untuk dirinya dan Pak Khalil atau bekerja untuk Kemara seumur hidupnya. Pak Khalil adalah pemilik Attarwalla sekaligus mantan guru Jati ketika SMA. Jati lebih menyukainya ketimbang Nurdin sebab Pak Khalil lebih mendukung pendidikannya. Oleh karena itu, Jati memilih bekerja untuk Kemara dan setuju untuk tinggal di rumah Raras.

 

Tak disangka, tawaran manis itu merupakan rencana busuk Raras karena ia menganggap Jati lebih pantas untuk membaui Puspa Karsa dibandingkan Suma. Suma yang mengetahui hal ini pun sempat mengibarkan bendera perang untuk Jati. Anehnya, Jati tak pernah marah. Ia bahkan ingin berdamai dengan Suma, sebab menurutnya mereka memiliki penciuman yang sama hebatnya. Jati bahkan berusaha menolong Arya, kekasih Suma yang juga seorang pembalap handal. Jika bukan karena instruksi Jati yang mencium bau boraks di mobil Arya, lelaki itu mungkin sudah tewas di arena balap.

 

Atas saran Arya, Suma mencoba menurunkan egonya, meski ia masih sangat kesal pada Jati. Apalagi, ketika dengan mudahnya Raras mengirim Jati ke Perancis untuk privat meracik parfum. Ketika Jati masih di Perancis, Suma diam-diam masuk ke kamar Jati dan membaca seluruh catatan di beberapa buku tulis milik Jati. Dari sana ia sadar kalau reputasi masa kecil Jati sangat buruk. Ia merasa menemukan senjata untuk memukul telak Jati.

 

Suma sempat menskakmat Jati ketika ia pulang dari Perancis. Ia menceritakan hal-hal buruk tentang Jati pada Raras. Di luar dugaan, Jati marah besar karena Suma membaca catatan rahasianya di buku itu. Di luar dugaan pula, Raras sudah tahu semua tentang Jati dan ia marah besar karena ketidaksopanan Suma.

 

Akhirnya, Suma memutuskan minta maaf pada Jati. Dengan sedikit perjuangan, Jati memaafkannya. Jati bahkan membantunya lepas dari obat epilepsi itu agar bisa menikmati aroma apapun sebebas dirinya. Jati mengaku kalau ia tidak tertarik dengan Puspa Karsa, sebab itu tidak ada di kontrak awalnya dengan Raras. Ia ingin Suma yang ikut ekspedisi itu. Namun, Suma meminta Jati menemaninya.

 

Suma, Jati, dan tim ekspedisi terbaru Puspa Karsa pun berangkat ke Gunung Lawu. Tim itu terdiri dari seorang ahli botani, seorang arkeolog, dan seorang pensiunan tentara. Meski sudah mendapat larangan dari banyak pihak, Raras tetap bersikukuh agar ekspedisi ini tetap jalan. Masing-masing anggota tim juga telah mendapat beragam info dari tim ekspedisi sebelumnya yang masih hidup. Tetapi, sama saja, mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi. Sebelum sampai ke Puspa Karsa, Jati dan Suma telah menemukan lebih dari itu. Segala kelicikan Raras perlahan terungkap.

 

Baiklah, aku tidak ingin membeberkan semua detail dan kejutannya di resensi ini. Alangkah baiknya jika kalian membaca dan menemukannya sendiri. Menurutku, dengan alurnya yang maju mundur, dibutuhkan konsentrasi dan pemahaman untuk bisa mengaitkan tiap kejadian dalam buku ini. Ending-nya susah ditebak. Maklum, ini buku fiksi. Genrenya yang fantasy bercampur romance dan sejarah serta diceritakan dengan sudut pandang penciuman membuatnya semakin menarik, sekaligus semakin misterius.

 

Kesan pertamaku saat selesai membaca Aroma Karsa adalah "mengagumkan". Baru kali ini aku membaca buku fiksi yang diceritakan dari sudut pandang penciuman. Aku jadi menyadari banyak hal tentang aroma di sekitarku.

 

Kalian harus mencoba masuk ke dunia imajinasi Dee. 700-an halaman Aroma Karsa akan memuaskan imajinasi dan penciuman kalian.

 

Terima kasih.