Ulasan Novel Anak : Bridge to Terabithia

Ulasan Novel Anak Bridge to Terabithia

”Terima Kasih, Leslie!”

 

Judul Buku                : Bridge to Terabithia

Nama Penulis            : Katherine Paterson

Nama Penerbit          : Noura Books - PT Mizan Publika (versi terjemahan)

Nama Pengulas         : Ni Kadek Emik Sapitri (ig : @emiksapitri)

 

Jess Aarons, anak ketiga dari lima bersaudara yang juga merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Jess hobi berlari. Ia bertekad menjadi pelari tercepat di kelas 5 nanti. Untuk itu, ia giat berlatih meski harus sembunyi-sembunyi berlari saat pagi-pagi buta setelah ia selesai memerah Nona Bessie, sapi kesayangannya. Namun, impian Jess seketika sirna oleh suatu hal tidak terduga. Ada murid baru di kelasnya, namanya Leslie Burke, dan murid baru itu mengalahkan semua peserta lomba lari. Padahal, Leslie perempuan, dan itu memalukan bagi Jess, juga bagi seluruh peserta yang semuanya laki-laki.

Leslie ternyata tetangga baru Jess. Karena rumah mereka berdekatan dan sama-sama suka berlari, lambat laun Jess akrab dengan Leslie. Suatu hari, mereka berdua tidak sengaja menemukan tempat menakjubkan di seberang sungai. Mereka mencapainya dengan berayun di tali tambang yang mereka dapati terikat kuat pada pohon. Menurutku tempat itu mirip hutan. Namun, dengan imajinasi mereka, semuanya menjadi lebih seru. Tempat itu Leslie beri nama "Terabithia". Mereka menjadi raja dan ratu di Terabithia. Di sana, mereka melakukan banyak hal sepulang sekolah. Entah itu makan cemilan, melukis, atau Leslie akan mendongeng untuk Jess. Kadang mereka berkhayal bahwa mereka sedang diserang, ketika ada burung yang lewat atau tupai yang menjatuhkan kacang di atas kepala mereka. Suasana menjadi makin ramai saat Jess memberi hadiah anak anjing pada Leslie. Mereka memberinya nama Pangeran Terrien atau disingkat PT.

Leslie juga akrab dengan salah satu adik Jess, May Belle. Saat Janice, kakak kelas mereka mengambil paksa bekal May Belle, Jess dan Leslie buru-buru merencanakan pembalasan kejahilan. Di Terabithia, mereka menyusun rencana hebat, yang ternyata berhasil tanpa ketahuan. Sayangnya, beberapa hari kemudian, mereka harus berbaik hati menolong Janice. Seketika mereka menyadari kalau hidup Janice sangat tidak mudah. Beruntung Leslie berhasil memberikan wejangan yang membantu.

Jess juga akrab dengan keluarga Leslie. Ia pernah membantu keluarga itu mengecat dinding, menjadikan ruangan itu indah dengan cat warna emas. Kemudian, Leslie juga lumayan akrab dengan keluarga Jess. Mereka pernah pergi ke gereja bersama. Oh ya, satu hal lagi yang unik dalam buku ini adalah kedekatan Jess dengan Miss Edmund, guru musik di sekolahnya. Guru itu begitu mendukung potensi Jess dalam seni, terutama melukis.

Ending dari buku ini menurutku lumayan unik sekaligus sangat menguras emosi. Kalian harus bersabar karena buku ini memang terasa flat di awal, namun menjelang akhir sungguh luar biasa. Sad ending ataukah happy ending, itu menurutku tergantung cara pandang masing-masing pembaca. Sekilas mungkin tampak sad ending, namun jika memperhatikan petuah di baliknya, maka akan terasa happy ending. Intinya, di akhir buku ini, sesuatu terjadi pada Leslie. Jess kemudian memutuskan membangun sendiri jembatan menuju Terabithia dan mengajak May Belle ke sana untuk pertama kalinya.

Buku ini adalah novel anak yang telah mendapatkan banyak penghargaan antara tahun 1977 s.d. 1986 dan juga sudah pernah difilmkan. Terinspirasi dari kisah nyata antara anak si penulis dengan teman perempuan si anak. Tidak terlalu tebal, kurang dari 250 halaman, namun kalian harus berusaha berimajinasi saat membacanya agar bisa merasakan keseruan di Terabithia. Lebih baik, kalian mencobanya sendiri dan kalian akan memahami judulnya, tentang pentingnya jembatan itu, pentingnya jujur pada teman, dan bagaimana Leslie mengubah Jess menjadi pribadi yang lebih baik.