Ulasan Novel Anak : Matilda

Ulasan Novel Anak : Matilda

”Matilda, si Genius yang Kurang Beruntung”

 

Judul Buku                : Matilda

Nama Penulis            : Roald Dahl

Nama Penerbit          : Noura Books - PT Mizan Publika (versi terjemahan)

Nama Pengulas         : Ni Kadek Emik Sapitri (ig : @emiksapitri)

 

Buku ini sarat dengan komedi disertai ilustrasi yang menggemaskan karya Quentin Blake. Sebagai saran awal, jangan terlalu serius menanggapi setiap konflik di buku ini, sebab ini merupakan cerita fiksi yang bertujuan untuk menghibur dan mengembangkan imajinasi anak-anak. Buku ini juga sudah pernah difilmkan dengan Mara Wilson berperan sebagai Matilda. Dengan menonton filmnya, kalian pasti mengerti sisi komedi dari buku ini, meski menurutku bukunya lebih masuk akal daripada filmnya karena pada buku terdapat penjelasan dari setiap adegan yang terjadi.

Buku ini tentang Matilda Wormwood, si anak genius yang kurang beruntung. Anak yang pintar apalagi tergolong genius biasanya disayang dan dibanggakan oleh orang tuanya. Namun, itu semua tidak berlaku untuk Matilda. Matilda mengajari dirinya sendiri membaca saat ia berumur tiga tahun dan telah bisa membaca dengan lancar dan cepat setahun kemudian. Orang tuanya menganggap Matilda cerewet dan tidak normal apalagi saat ia meminta dibelikan sebuah buku untuk dibaca. Maklum, kebiasaan orang tua Matilda sangat berbeda. Tidak ada yang suka membaca seperti dia. Mereka lebih suka menonton televisi atau melakukan hal konyol lainnya. Mereka juga tidak peduli pada Matilda.

Setiap hari, sang ayah akan pergi bekerja, menjual mobil rongsokan yang dipoles menjadi terlihat bagus. Ia telah mencurangi banyak mobil dan menipu banyak pelanggan. Sementara itu, sang ibu akan pergi untuk bermain bingo dan Michael sang kakak pergi sekolah. Matilda yang bosan selalu sendirian di rumah pun tidak kehilangan akal. Ia yang saat itu baru berumur empat tahun mencari tahu di mana letak perpustakaan kota, lalu berkunjung ke sana. Matilda menganggap tempat itu menyenangkan. Ia datang setiap hari. Tentunya dengan berjalan kaki, sendirian.

Mrs. Phelps, penjaga perpustakaan sudah seminggu belakangan ini memperhatikan Matilda. Suatu hari, ia menawarkan bantuan. Matilda mengatakan ia telah selesai membaca semua buku anak. Awalnya Mrs. Phelps tidak percaya, namun setelah Matilda bisa menceritakan isi beberapa buku, ia langsung takjub. Matilda juga menceritakan tentang keluarganya. Mrs.Phelps lalu menyarankan Matilda meminjam buku untuk dibaca di rumah agar ia tidak perlu repot datang ke perpustakaan sendirian setiap hari. Ia kasihan melihat anak sekecil Matilda harus berjalan kaki sendirian.

Saat keluarganya tahu ia pergi ke perpustakaan, responnya tentu negatif. Matilda mulai dipaksa untuk ikut menonton televisi. Orang tuanya juga lupa mendaftarkannya sekolah. Matilda baru masuk sekolah menjelang umur 7 tahun di sekolah yang mengerikan. Kepala sekolahnya, Mrs. Trunchbull sangat kasar dan sok berkuasa. Beruntung gurunya, Miss Honey sangat sabar dan baik hati.

Matilda sebenarnya sangat tertekan. Selain karena sikap orang tua dan kakaknya yang selalu menganggapnya sok pintar, ia risih karena kemampuannya sudah setara murid kelas 6 tapi ia harus duduk di kelas 1. Mrs. Trunchbull tidak mengizinkannya loncat kelas, malah menganggapnya licik. Miss Honey berbaik hati meminjamkan buku pelajaran yang lebih sulit untuk dibaca Matilda selama kelas berlangsung. Itu tidak terlalu membantu, namun Matilda menghargainya.

Di tengah tekanan yang Matilda alami, ia mendapat kemampuan yang luar biasa. Ia pernah meledakkan televisi, lalu bisa menggerakkan benda dengan tatapan matanya. Kelebihan itu membuatnya bisa melakukan berbagai kejahilan juga bisa untuk menolong orang.

Ada banyak adegan menarik yang tidak bisa kutulis satu persatu di sini. Selain itu, dalam buku ini juga diselipkan beberapa kejadian lucu seperti saat Matilda membubuhkan lem super di topi ayahnya dan mengganti sampo ayahnya dengan cat rambut warna perak milik ibunya. Lavender, teman Matilda juga pernah menaruh ikan salamander pada minuman Mrs. Trunchbull hingga kepala sekolah itu ketakutan dan seisi kelas tertawa geli.

Bagian yang paling kusuka adalah saat Matilda makin dekat dengan Miss Honey. Matilda akhirnya tahu siapa sebenarnya Miss Honey. Ia adalah keponakan Mrs. Trunchbull yang kabur dari rumah, rela hidup miskin daripada harus menghadapi sikap bibinya di rumah. Miss Honey kabur sesaat setelah kematian ayahnya, Magnus. Atas ulah Mrs. Trunchbull, Miss Honey tidak mendapat warisan apa-apa padahal ayahnya tergolong kaya. Matilda langsung bertekad menolong Miss Honey. Ia berhasil, tentunya dengan cara yang tak biasa. Kalian harus membaca bukunya sendiri untuk mengerti.

Sayangnya, saat menurut Matilda keadaan sudah terkendali, ia menemui masalah baru. Penipuan yang terus dilakukan ayahnya terungkap. Keluarga Wormwood memutuskan untuk lari dari polisi dan buru-buru pindah dari sana. Bagaimana keputusan Matilda? Akankah Matilda ikut pindah meninggalkan Miss Honey, Lavender, dan semua temannya?