Ulasan Novel Anak : The Secret Garden

Ulasan Novel Anak : The Secret Garden

”Panggilan dari Burung Robin dan Kebun Rahasia”

 

Judul Buku                : The Secret Garden

Nama Penulis            : Frances Hudgson Burnett

Nama Penerbit          : Qanita - Penerbit Mizan (versi terjemahan)

Nama Pengulas         : Ni Kadek Emik Sapitri (ig : @emiksapitri)

 

Cerita dimulai dari sebuah daerah di India. Di sanalah awalnya Marry Lennox tinggal bersama seseorang pengasuh pribumi yang ia sebut "ayah" sementara ibu kandungnya tidak menginginkannya. Marry tumbuh menjadi anak yang cantik, namun fisiknya lemah. Ia juga cerewet, keras kepala, dan suka mengatur orang lain. Ia dijuluki tiran cilik yang egois. Tidak ada yang menyukainya.

Suatu hari, wabah kolera melanda India. Marry saat itu berumur sepuluh tahun. Ia memang sengaja tersembunyi di kamar bermain karena takut. Marry tidak memahami hal-hal yang terjadi. Ia hanya tahu orang-orang jatuh sakit. Ia mendengar suara-suara menakutkan hingga menangis dan tertidur berulang kali. Sempat ia menyelinap ke ruang makan, kemudian ia mendapati kursi-kursi seperti telah didorong dengan terburu-buru. Tak sengaja Marry minum anggur setelah memakan sedikit biskuit. Minuman itu membuatnya mengantuk hingga ia kembali ke kamar bermain dan tidur cukup lama.

Banyak yang terjadi selama Marry tidur. Saat terbangun, ia mendapati suasana sepi. Marry girang, berharap orang-orang sudah sembuh. Anehnya, setelah lama menunggu, malah datang orang asing. Mereka keheranan menemukan Marry. Marry pun akhirnya tahu kalau semua orang termasuk “ayah” dan ibunya sudah meninggal. Pelayan pribumi yang selamat juga memilih pergi. Tak ada yang tersisa lagi di sana. Marry terlupakan. Marry pun dikirim untuk tinggal di rumah pendeta Inggris sebelum akhirnya dikirim untuk tinggal bersama keluarga Craven. Mr. Craven adalah pamannya.

Mrs. Medlock menjemput Marry. Mereka melalui perjalanan panjang melintasi medan yang sulit dan padang kerangas untuk bisa sampai di rumah keluarga Craven di Inggris. Rumah itu suram. Terdapat seratus kamar yang sebagian besar ditutup. Mr. Craven orang yang aneh, apalagi sejak istrinya meninggal. Ia tidak mau bertemu siapa-siapa. Mr. Craven menjadi lebih sering bepergian. Marry sendiri tidak merasa mengkhawatirkan apapun tentangnya.

Sesampai di sana, Marry berkenalan dengan Martha, pelayan Mrs. Medlock. Namun, Marry menganggap Martha pelayannya. Karena terbiasa dilayani oleh orang-orang pribumi, Marry memerintah Martha seenaknya. Martha agak kaget dengan perilaku Marry yang menurutnya tidak wajar. Marry juga tidak mau menyentuh makanannya. Butuh waktu yang lama untuk melunakkan Marry. Aku sangat menikmati bagaimana proses Marry berubah menjadi lebih baik, lebih banyak bergerak, dan lebih menghargai makanan.

Ada banyak hal yang terjadi di rumah itu dan sekitarnya. Marry bertemu tukang kebun bernama Ben, juga seekor burung robin yang membuatnya penasaran dengan perkebunan itu. Marry pun tahu bahwa ada kebun lain di balik sebuah tembok. Burung robin itu yang menunjukkannya. Anehnya, ia tidak menemukan pintu masuknya.

Marry juga telah bertemu Dickon, adik Martha. Dickon berumur dua belas tahun. Ia dianggap bisa bicara dengan hewan dan punya kemampuan menumbuhkan berbagai tanaman. Marry dan Dickon cepat menjadi teman baik. Dickon mengajari banyak hal pada Marry. Mulai dari hal-hal tentang hewan, sampai cara menanam sesuatu. Saat Marry menemukan kunci menuju kebun rahasia milik Mrs. Craven (yang telah meninggal), mereka berusaha memperbaiki kebun itu agar tampak lebih hidup. Kebun itu sudah ditinggalkan sejak lama dan tampak berantakan. Selain itu, Marry menghadapi misteri lain. Ia berkali-kali mendengar suara tangisan di koridor. Semua orang mengatakan itu hanya halusinasinya. Tentu Marry tak percaya. Suatu hari ia berhasil membuktikannya. Itu tangisan Colin, yang ternyata adalah sepupunya yang sebaya dengannya.

Colin dianggap sakit keras, akan tumbuh tanduk di punggungnya, dan ia akan segera mati. Sejak lahir, Colin tidak pernah keluar dari kamar itu. Kakinya tumbuh lemah hingga tidak bisa berjalan. Itulah alasan Colin sering menangis. Ia takut dan kehadirannya tidak diinginkan oleh siapapun. Mr. Craven sendiri menganggapnya pembawa sial.

Lama-kelamaan Marry akrab dengan Colin. Awalnya Colin cemburu karena Marry banyak menghabiskan waktunya bersama Dickon daripada dirinya (yang dianggap sakit keras dan akan segera mati). Lama-kelamaan, Colin senang mendengar cerita dari Marry, tentang padang kerangas, Dickon, hewan-hewan peliharaan Dickon, dan semuanya. Marry memberanikan diri menceritakan tentang kebun rahasia itu pada Colin. Tentu Colin sangat girang dan ingin sekali pergi ke sana, namun ia terlalu takut.

Marry dibantu Martha, memahami bahwa penyebab penyakit Colin bukankah kelainan atau kutukan seperti yang dipikirkan semua orang. Itu hanya sugesti dirinya yang diperkuat oleh anggapan orang-orang. Perlahan-lahan Marry dan Dickon membantu Colin untuk sembuh. Sesekali mereka mengajak Colin keluar kamar, kemudian pergi diam-diam ke kebun rahasia. Colin belajar banyak hal di sana. Ia merasakan bagaimana bahagianya menghirup udara segar dan punya teman.

Di kebun rahasia, Colin belajar menggali, berjalan, dan lebih percaya diri. Ia mulai yakin kalau ia akan tumbuh normal dan hidup lebih lama. Ben, si tukang kebun itu sempat mengusik mereka. Ia marah saat tahu ada yang masuk ke kebun rahasia. Bertahun-tahun Ben telah merawat kebun itu diam-diam. Ia memanjat dinding untuk bisa masuk ke sana. Namun karena ia telah menua, beberapa tahun belakangan ia tak sanggup memanjat lagi. Awalnya Ben marah besar, namun saat melihat Colin, ia luluh. Ben sadar kalau semua orang telah berbohong. Meski tubuh Colin begitu kurus dan putih seperti hantu, secara umum ia terlihat normal. Ben yakin ia akan tumbuh normal, bukan cacat berkaki bengkok dan bertanduk di punggung seperti kata orang-orang.

Di akhir cerita, Mr. Craven pulang dari bepergian. Ia teringat masa lalu dan merasa merindukan kebun rahasia itu. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Colin berlarian di sana bersama Marry dan Dickon. Akhir yang mengharukan.

Aku sangat menikmati buku setebal 456 halaman ini. Sama sekali tidak membosankan meskipun ceritanya sangat sederhana. Narasinya benar-benar membuatmu merasa ada dalam cerita. Aku bisa merasakan udara padang kerangas, kelezatan makanan di rumah Mr, Craven, dan keseruan di kebun rahasia itu. Alurnya juga pelan. Aku bisa merasakan bagaimana Marry berubah, bagaimana Marry dan Dickon menata kebun itu, bagaimana mereka meyakinkan Colin kalau ia tidak sakit, dan sebagainya. Semua terasa sangat nyata.

Buku ini juga sudah difilmkan beberapa kali. Saat menonton trailernya di youtube, aku bisa mengatakan kalau favoritku jatuh pada film versi tahun 1993. Musik-musik temanya juga pas dan menyentuh. Sayangnya, aku tidak menemukan versi full movienya. Jadi, kalian harus baca bukunya untuk bisa menikmati keseruan cerita persahabatan mereka.