CVP Analysis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Analisis Biaya Volume Laba/BVL (cost volume profit analysis/CVP) merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Hal ini dikarenakan CVP menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual, dan harga, semua informasi keuangan perusahaan terkandung di dalamnya. Analisis CVP berfokus kepada lima hal, yaitu:  harga produk (prices of products),  volume produksi,  biaya variable per unit, total biaya tetap (biaya yang sifatnya tetap tidak terpengaruh oleh fluktuasi kuantitas produksi), dan mix of product sold (bauran produk dalam penjualan).

            Karena perannya yang sangat besar, cost volume profit analysis dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi manajemen untuk mengidentifikasi ruang lingkup permasalahan ekonomi perusahaan serta membantu mencari solusi atas permasalahannya.

            Analisis CVP dapat membantu manajemen untuk mengetahui beberapa hal penting, antara lain: Berapa jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai titik impas; Dampak pengurangan Biaya Tetap (Fixed Cost) terhadap titik impas; Dampak kenaikan harga terhadap laba ; Berapa volume penjualan dan bauran produk yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat laba yang diharapkan dengan sumber daya yang dimiliki; Tingkat sensitivitas harga atau biaya terhadap laba.

            Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas bagaimana hubungan analisis cost volume profit analysis, titik impas dalam unit maupun dolar, analisis multiproduk, dan penyajian grafis hubungan cost volume profit analysis agar manajer dapat dengan bijak mengambil keputusan yang pasti dan tidak mengandung resiko yang dapat merugikan perusahaan.

 

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1.                  Apakah yang dimaksud konsep variable costing ?

1.2.2.                  Apakah pengertian dari Cost Volume Profit (CVP) analysis ?

1.2.3.                  Apakah asumsi – asumsi dalam Cost Volume Profit Analysis ?

1.2.4.                  Bagaimana cara menghitung dan menginterpretasikan Break Even Point (BEP) ?

 

1.3 Tujuan

1.3.1.                  Mengetahui apa yang dimaksud dengan variable costing

1.3.2.                  Mengetahui pengertian dari Cost Volume Profit (CVP) analysis

1.3.3.                  Mengetahui asumsi – asumsi dalam Cost Volume Profit Analysis

1.3.4.                  Mengetahui cara menghitung dan menginterpretasikan Break Even Point (BEP)

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Variable Costing

Variable Costing merupakan suatu metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi variabel saja. Dikenal juga dengan istilah direct costing.

Harga Pokok Produksi :

Biaya bahan baku                                                        Rp.  xxx.xxx

Tenaga kerja langsung                                                 Rp.  xxx.xxx

Biaya overhead pabrik variabel                                    Rp.  xxx.xxx

Harga Pokok Produk                                                   Rp.  xxx.xxx

Dengan menggunakan Metode Variable Costing, maka : 

a.       Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.

b.      Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.

c.       Penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama periode yang akan datang.

Perbedaan antara  konsep Variable Costing dengan Full Costing tersebut pada tujuan utamanya, yaitu konsep variabel costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan internal sedangkan konsep full costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan eksternal. Adanya kedua perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan perlakuan terhadap biaya produksi tetap yang selanjutnya mempengaruhi:

1.      Penentuan besarnya harga pokok produk dan besarnya harga pokok persediaan.

2.      Penggolongan dan penyajian di dalam laporan laba-rugi.

Pembahasan tentang perbedaan metode variable costing dengan metode full costing dapat ditinjau dari segi:

1.      Penentuan harga pokok produk

Pada metode full costing, semua elemen biaya produksi baik tetap maupun variabel dibebankan ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu elemen harga pokok produk meliputi:

·         BBB (raw material cost)

·         BTKL (direct labor cost)

·         BOP  variabel (variable FOH)

·         BOP  tetap (fixed FOH)

Sedangkan pada metode variabel costing hanya memasukkan atau membebankan biaya produksi variabel  ke dalam harga pokok produk. Elemen harga pokok produk meliputi:

·         BBB (raw material cost)

·         BTKL (direct labor cost)

·         BOP  variabel  (variable FOH)

Elemen biaya

Full costing

Variable costing

BBB(raw material cost)

BTKL(direct labor cost)

BOP variabel (variable FOH)

BOP tetap (fixed FOH)

Jumlah Harga Pokok Produk

Rp.xxx

Rp.xxx

Rp.xxx

Rp.xxx

Rp. xxx

Rp.xxx

Rp.xxx

Rp.xxx

_

Rp.xxx

 

2.      Penentuan harga pokok persediaan

Dengan adanya perbedaan pembebanan elemen biaya produksi (production cost) kepada produk antara metode full costing dengan metode variable costing, mengakibatkan pula perbedaan harga pokok persediaan. Pada metode full costing BOP tetap (fixed FOH) dibebankan ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu jika sebagian produk masih ada dalam persediaan atau belum terjual maka sebagian BOP tetap (fixed FOH) masih melekat pada harga pokok persediaan. Metode variable costing tidak membebankan BOP tetap (fixed FOH) ke dalam harga pokok produk, akan tetapi BOP tetap (fixed FOH) langsung dibebankan ke dalam laba-rugi sebagai biaya periode. Oleh karena itu produk yang masih ada dalam persediaan atau belum terjual hanya dibebani biaya produksi variabel atau BOP tetap (fixed FOH) tidak melekat pada harga pokok persediaan.

3.      Penyajian Laporan Laba-Rugi

Perbedaan di dalam  penyajian laporan laba-rugi antara metode full costing dengan variable costing dapat ditinjau dari segi:

a.       Penggolongan biaya dalam laporan laba-rugi

Pada metode full costing, biaya digolongkan menjadi dua, yaitu:

1)      Biaya produksi, meliputi BBB (raw material cost), BTKL(direct labor cost) dan BOP tetap (fixed FOH) maupun BOP variabel (variable FOH).

2)      Biaya non produksi atau biaya periode (period cost), meliputi semua biaya yang tidak termasuk dalam harga pokok produk sehingga harus dibebankan langsung ke laporan laba-rugi periode terjadinya.

Pada metode variable costing, biaya digolongkan menjadi:

1)      Biaya variabel (variable costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsioanal sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Biaya ini dikelompokkan ke dalam:

·         Biaya variabel produksi, yaitu BBB, BTKL dan BOP variabel.

·         Biaya variabel non produksi, yaitu biaya pemasaran variabel (variable of marketing expense), biaya adminstrasi dan umum variabel (variable of general & administrative expense), biaya finansial variabel (variable of financial expense).

2)      Biaya tetap (fixed costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. Biaya tetap pada konsep variable costing disebut pula dengan biaya periode (period cost) atau disebut pula biaya kapasitas(capacity cost).

 

2.2 Pengertian Cost Volume Profit (CVP) Analysis

            Pengertian analisis cost volume profit adalah analisis yang digunakan untuk menentukan bagaimana perubahan dalam biaya dan volume dapat mempengaruhi pendapatan operasional (operating income) perusahaan dan pendapatan bersih (net income). Seperti kita ketahui, jumlah produk yang dihasilkan perusahaan didalam suatu periode tertentu akan memiliki hubungan langsung dengan besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan. Ketika biaya itu dipertemukan dengan nilai penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan, laba perusahaan yang diperoleh pada suatu periode akan terpengaruh menjadi lebih besar atau lebih kecil. Untuk melihat hubungan antara ketiga variabel itu (biaya, volume, dan laba) diperlukanlah analisis cost volume profit.

Cost Volume Profit Analysis dalam pengambilan keputusan jangka pendek, dibutuhkan informasi mengenai perubahan biaya, volume dan pendapatan. Alat analisis yang penting yang dapat digunakan untuk mengolah informasi tersebut ialah Cost Volume Profit Analysis. Cost Volume Profit Analysis juga memungkinkan para manajer untuk melakukan analisis sensitivitas dengan menguji dampak dari berbagai tingkat harga atau biaya terhadap laba. Dengan demikian, titik berat dalam analisis CVP ini ialah sampai sejauh manakah perubahan biaya, volume dan harga jual dapat mempengaruhi laba perusahaan.

 

2.3 Asumsi – Asumsi dalam Cost Volume Profit

Grafik laba volume dan biaya volume laba yang baru diilustrasikan mengandalkan beberapa asumsi penting. Berikut beberapa dari asumsi tersebut :

1.      Analisis mengasumsikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya berbentuk linear

2.      Analisis mengasumsikan harga, total biaya tetap, dan biaya variable per unit dapat diidentifikasikan secara akurat dan tetap konstan sepanjang tentang yang relevan

3.      Analisis mengasumsikan apa yang diprosuksi dapat dijual

4.      Untuk analisis multiproduk, diasumsikan bauran penjualan diketahui

5.      Diasumsikan harga jual dan biaya diketahui secara pasti.

Total Biaya

Fungsi Linear. Asumsi pertama, yaitu fungsi biaya dan pendapatan linear, memerlukan pertimbangan tambahan. Pada tampilan Panel A menggambarkan fungsi pendapatan dan biaya yang berbentuk kurva linear. Kita melihat bahwa saat kuantitas yang dijual meningkat, pendapatan juga meningkat. Namun, kemudian, peningkatannya mulai tidak setajam bila dibandingkan sebelumnya. Hal itu dijelaskan dengan mudah oleh kebutuhan untuk menurunkan harga ketika unit yang terjual lebih banyak. Fungsi total biaya lebih rumit, yaitu pada awalnya naik tajam, kemudian agak mendatar (sejalan dengan terjadinya peningkatan tingkat pengembalian), selanjutnya kembali naik secara tajam (sejalan dengan terjadinya penurunan tingkat pengembalian).

Unit

5.000

Total Pendapatan

Panel B

Panel A

15.000

$

Total Biaya

Total Pendapatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Rentang yang relevan. Beruntunglah, kita tidak perlu memperhitungkan seluruh rentang produksi dan penjualan yang mungkin untuk suatu perusahaan. Ingat bahwa analisis CVP merupakan alat pengambilan keputusan jangka pendek. Hal yang kita perlukan hanyalah menetapkan rentang operasi berjalan atau rentang yang relevan yang menggambarkan hubungan biaya dan pendapatan linear yang berlaku. Pada tampilan panel B mengilustrasikan rentang yang relevan dari 5.000 hingga 15.000 unit. Perhatikan bahwa hubungan biaya dan pendapatan secara garis besar adalah linear dalam rentang ini. Hal itu memungkinkan kita untuk menggunakan persamaan CVP linear. Jika rentang yang relevan berubah, maka biaya tetap dan variabel tentu akan berbeda. Harga yang berbeda pun harus digunakan. Asumsi kedua ini berkaitan dengan penetapan rentang yang relevan. Setelah rentang yang relevan diidentifikasi, selanjutnya biaya dan hubungan harga diasumsikan supaya diketahui dan konstan.

Produksi sama dengan penjualan. Asumsi ketiga adalah apa yang diproduksi dapat dijual. Tidak ada perubahan persediaan selama periode tersebut. Persediaan tidak berdampak terhadap analisis impas merupakan hal yang dapat dimengerti. Analisis impas adalah teknik pengambilan keputusan jangka pendek sehingga kita dapat menutup seluruh biaya pada periode waktu tertentu. Persediaan mengandung biaya – biaya dari periode sebelumnya dan tidak dipertimbangkan.

Bauran penjualan yang konstan. Dalam analisis produk tunggal, bauran penjualannya tentu konstan- 100 persen dari penjualan adalah satu produk. Analisis impas multiproduk mensyaratkan suatu bauran penjualan yang konstan. Namun, tidak mungkin memprediksikan bauran penjualannya dengan pasti. Dalam praktiknya, kendala ini biasanya ditangani dengan analisis sensitivitas. Dengan menggunakan kemampuan analisis spreadsheet, sensitivitas variabel pada berbagai bauran penjualan dapat dinilai secara cepat.

Harga dan biaya diketahui dengan pasti. Pada kenyataannya, perusahaan jarang mengetahui harga, biaya variabel, dan biaya tetap secara pasti. Suatu perubahan pada satu variabel biasanya memengaruhi nilai variabel lainnya. Kerap terdapat suatu distribusi probabilitas untuk diatasi. Selain itu, terdapat cara – cara formal untuk pengaturan ketidakpastian secara eksplisit ke dalam model CVP.

 

2.4 Cara Menghitung dan Menginterpretasikan Break Even Point (BEP)

2.4.1 Titik Impas dalam unit (Produk Tunggal)

Ketertarikan untuk mengetahui pendapatan, beban, dan laba berperilaku ketika volume berubah adalah sesuatu yang lazim untuk memulai dengan menentukan titik impas perusahaan dalam jumlah unit yang terjual. Titik impas  (break-even point) adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya atau titik dimana laba sama dengan nol (zero profit). Untuk menentukan titik impas dalam unit (pendapatan sama dengan total biaya), maka perlu difokuskan pada laba operasi. Dalam hal ini, yang dilakukan pertama kali adalah menentukan titik impas, kemudian melihat bagaimana pendekatan yang telah digunakan itu dapat dikembangkan untuk menentukan jumlah unit yang harus dijual guna menghasilkan laba yang ditargetkan.

·         Penggunaan Laba Operasi dalam Analisis CVP

Laporan laba rugi merupakan suatu alat yang berguna untuk mengorganisasikan biaya – biaya perusahaan dalam kategori tetap dan variabel. Laporan laba rugi dapat dinyatakan sebagai persamaan berikut.

Laba operasi = Pendapatan penjualan – Beban variabel –Beban tetap

Perhatikan bahwa kita menggunakan istilah laba operasi untuk menunjukkan penghasilan atau laba sebelum pajak penghasilan. Laba operasi (operating income) hanya mencakup pendapatan dan beban dari operasional normal perusahaan. Laba bersih (net income) adalah laba operasi dikurangi pajak penghasilan.

Setelah menghitung jumlah unit yang terjual, kita dapat mengembangkan persamaan laba operasi dengan menyatakan pendapatan penjualan dan beban variable dalam jumlah unit dolar dan jumlah unit. Secara lebih spesifik, pendapatan penjualan dinyatakan sebagai harga jual per unit dikali jumlah unit yang terjual. Dengan demikian, persamaan laba operasi menjadi :

Laba operasi = (Harga x Jumlah unit terjual) – (Biaya Variabel per unit

x jumlah unit terjual ) – Total biaya tetap

            Misalkan, kita ditanya mengenai jumlah unit yang harus dijual untuk mencapi impas atau menghasilkan laba nol. Kita dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan menetapkan laba operasi sama dengan nol, kemudian memecahkan persamaan laba operasi untuk jumlah unit.

Sekarang, mari kita ambil contoh berikut ini adalah mencari titik impas dalam unit. Contohnya adalah Whittier Company memproduksi mesin pemotong rumput. Berikut ini adalah proyeksi laporan laba rugi perusahaan Whittier Company :

Penjualan (1000 unit@$400)                          $400.000

Dikurangi: Beban variabel                                325.000

Margin kontribusi                                            $  75.000

Dikurangi: Beban tetap                                       45.000

Laba operasi                                                     $  30.000

 

 

 

 

 

 

 


Hal ini menunjukan bahwasanya Whittier Company mempunyai harga adalah $400 per unit, dan biaya variabel per unit adalah $325 ($325.000/1000 unit). Biaya tetap adalah $45.000. Maka pada titik impas, persamaan laba operasi adalah sebagai berikut:

0                      = ($400 x Unit) – ($325 x Unit) - $45.000

0                      = ($75 x Unit) - $45.000

$75 x   Unit     = $45.000

Unit     = 600

 

 

 

 

 

 

 


Dengan demikian, Whittier Company  harus menjual 600 pemotong rumput untuk menutupi semua beban tetap dan variabel. Suatu cara yang baik untuk memeriksa jawaban ini adalah dengan memformulasikan suatu laporan laba rugi berdasarkan 600 unit yang terjual.

Penjualan (600 unit@ $400)                           $240.000

Dikurangi: beban variabel                                 195.000

Margin kontribusi                                            $  45.000

Dikurangi: Beban tetap                                       45.000

Laba operasi                                                    $            0

 

 

 

 


Jelaslah, penjualan 600 unit menghasilkan laba nol.

Sebuah keunggulan penting dari pendekatan laba operasi adalah bahwa seluruh persamaan cost volume profit berikutnya diturunkan dari laporan laba rugi menurut perhitungan biaya variabel. Sehingga setiap persoalan cost volume profit dapat diselesaikan dengan menggunakan pendapatan ini.

·         Jalan Pintas untuk Menghitung Unit Impas

Salah satu cara cepat yang digunakan untuk menghitung titik impas dalam unit yaitu dengan menggunakan margin kontribusi. Margin kontribusi  (contribution margin) adalah pendapatan penjualan dikurangi total biaya variabel. Pada titik impas, margin kontribusi sama dengan beban tetap. Jika margin kontribusi per unit untuk harga dikurangi biaya variable per unit telah diganti pada persamaan laba operasi dan pada akhinya memperoleh jumlah unit, maka akan didapatkan persamaan dasar :

Jumlah unit BEP = Biaya tetap/Margin kontribusi per unit

Jumlah unit      = $45.000/($400-$325)

= $45.000/$75

= 600

 

Dengan menggunakan contoh dari Whittier Company margin kontirbusi per unit dapat dihitung dengan salah satu dari dua cara berikut. Cara pertama adalah dengan membagi total margin kontribusi dengan unit yang terjual ($75.000/1000) hasilnya $75. Cara kedua adalah penjualan dikurangi biaya variabel ($400 - $325) hasilnya $75. Untuk menghitung jumlah unit impas Whittier Company, dapat digunakan persamaan dasar sebagai berikut:

 

 

 

·         Penjualan dalam Unit yang Diperlukan untuk Mencapai Target Laba

            Meskipun titik impas merupakan informasi yang berguna, sebagian besar perusahaan ingin memperoleh laba operasi lebih besar daripada nol. Analisis cost volume profit menyediakan suatu cara menentukan jumlah unit yang harus dijual untuk menghasilkan target laba tertentu. Target laba di sini adalah laba operasi di atas nol (titik impasnya), yang dapat dinyatakan dengan jumlah dolar atau sebagai persentase dari pendapatan penjualan. Untuk mencari target laba, pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan laba operasi atau pendekatan margin kontribusi.

1.      Target Laba dalam Jumlah Dolar.

Anggaplah bahwa Whittier Company ingin memperoleh laba operasi sebesar $60.000. dalam hal ini, berapakah mesin pemotong rumput yang harus dijual untuk mencapai hasil ini? Jika menggunakan laporan laba rugi maka hasilnya adalah sebagai berikut:

$60.000           = ($400 x Unit) – ($325 x Unit) - $45.000

$105.000         = $75 x Unit

Unit                 = 1.400        

 

 

 

 


Jika menggunakan persamaan dasar impas, maka perlu menambahkan target laba sebesar $60.000 pada biaya tetap dan langsung :

Unit                 = ($45.000 + $60.000)/($400 - $325)

Unit                 = $105.000/$75

Unit                 = 1.400

 

 

 

 

 


Artinya Whittier harus menjual 1400 mesin pemotong rumput untuk menghasilkan laba operasi sebesar $60.000. Laporan laba rugi berikut membuktikan hasil ini:

Penjualan (1400 unit@$400)                          $  560.000

Dikurangi: Beban Variabel                                 455.000

Margin kontribusi                                            $  105.000

Dikurangi: Beban tetap                                         45.000

      Laba operasi                                                    $   60.000

 

 

 

 

 

 

 


Cara lain untuk memeriksa jumlah unit ini adalah dengan menggunakan titik impas. Seperti yang baru saja ditunjukkan, Whittier harus menjual 1.400 mesin pemotong rumput, atau 800 lebih banyak dari volume impas 600 unit, untuk menghasilkan laba sebesar $60.000. Margin kontribusi per mesin pemotong rumput adalah $75. Perkalian antara $75 dengan 800 unit mesin pemotong rumput diatas impas akan menghasilkan laba sebesar $60.000 ($75 x 800). Hasil ini menunjukkan bahwa margin kontribusi per unit untuk setiap unit diatas impas adalah sama persis dengan laba per unit. Karena titik impas telah dihitung, maka jumlah mesin pemotong rumput yang akan dijual untuk menghasilkan laba operasi $60.000 dapat dihitung dengan membagi margin kontribusi per unit ke dalam target laba dan menambahkan hasilnya dengan volume impas.

Secara umum, dengan mengasumsikan biaya tetap tidak berubah, dampak terhadap laba perusahaan yang dihasilkan dari perubahan jumlah unit yang terjual dapat dinilai dengan mengalikan margin kontribusi per unit dengan perubahan unit yang terjual. Sebagai contoh, jika 1.500 mesin pemotong rumput, bukan 1.400 yang terjual, maka berapa jumlah laba yang akan diperoleh? Perubahan dalam unit yang terjual adalah suatu kenaikan sebanyak 100 mesin pemotong rumput, dan margin kontribusi per unit adalah $75. Dengan demikian, laba akan meningkat sebesar $7.500 ($75 x 100).

2.      Target Laba dalam Persentase dari Pendapatan Penjualan

Anggaplah bahwa Whittier Company ingin mengetahui jumlah mesin pemotong rumput yang harus dijual untuk menghasilkan laba yang sama dengan 15 persen dari pendapatan penjualan. Pendapatan penjualan adalah harga dikalikan dengan kuantitas. Dengan menggunakan laporan laba rugi (yang lebih sederhana dalam kasus ini), maka  diperoleh:

0,15 ($400) (Unit)       = ($400 x Unit) – ($325 x Unit) - $45.000

$60 x Unit                   = ($400 x Unit) – ($325 x Unit) - $45.000

$60 x Unit                   = ($75 x Unit) - $45.000

$15 x Unit                   = $45.000

Unit                             = 3.000

 

 

 

 

 

 


Apakah volume sebanyak 3.000 mesin pemotong rumput menghasilkan laba yang sama dengan 15 persen dari pendapatan penjualan? Untuk 3000 mesin pemotong rumput, total pendapatan adalah $1,2 juta ($400 x 3.000). Disini laba dapat dihitung tanpa harus menyusun laporan laba rugi yang formal. Ingat, bahwa diatas impas margin kontribusi per unit adalah laba per unit. Volume impas adalah 600 mesin pemotong rumput. Jika 3.000 mesin pemotong rumput terjual, maka ada 2.400 (3.000 – 600) mesin pemotong rumput diatas titik impas yang telah terjual. Jadi, laba sebelum pajak adalah $180.000 ($75 x 2400), yang merupakan 15 persen dari penjualan ($180.000/$1.200.000).

3.      Target Laba Setelah Pajak

Pada saat menghitung titik impas, pajak penghasilan tidak berperan. Ini disebabkan karena pajak yang dibayar atas laba nol adalah nol. Namun, ketika perusahaan ingin mengetahui berapa unit yang harus dijual untuk menghasilkan laba bersih tertentu, maka diperlukan beberapa pertimbangan tambahan. Ingat kembali, bahwa laba bersih adalah laba operasi setelah pajak penghasilan dan bahwa angka target laba dinyatakan dalam kerangka sebelum pajak. Dengan demikian, ketika target laba dinyatakan sebagai laba bersih, harus menambahkan kembali pajak penghasilan untuk memperoleh laba operasi.

Umumnya, pajak dihitung sebagai persentase dari laba. Laba setelah pajak dihitung dengan mengurangkan pajak dari laba operasi (atau laba sebelum pajak).

Laba bersih     = laba operasi – pajak penghasilan

= laba operasi – (tarif pajak x laba operasi)

= laba operasi (1 – tarif pajak)

Atau

Laba operasi   = Laba bersih/(1- Tarif Pajak)

 

 

 

 

 

 

 


Misalkan Whittier Company ingin memperoleh laba bersih sebesar $48.750 dan tarif pajaknya adalah 35 persen. Untuk mengonversi target laba setelah pajak menjadi target laba sebelum pajak, selesaikanlah langkah-langkah berikut:

$48.750           = Laba operasi – (0,35 x Laba operasi)

$48.750           = 0,65 (Laba operasi)

$75.000           = Laba operasi

 

 

 

 

 


Dengan kata lain, jika tarif pajak adalah 35 persen, maka Whittier Company harus menghasilkan $75.000 sebelum pajak penghasilan untuk memperoleh $48.750 setelah pajak penghasilan. Dengan pengonversian ini, maka dapat dihitung jumlah unit yang harus dijual:

 

Unit     = ($45.000 + $75.000)/$75

Unit     = $120.000/$75

Unit     = 1.600

 

 

 

 


Sekarang buktikan lah dengan laporan laba rugi berdasarkan penjualan sebanyak 1.600 mesin pemotong rumput.

Penjualan (1.600 @$400                                 $   640.000

Dikurangi: Beban Variabel                                  520.000

Margin kontribusi                                            $   120.000

Dikurangi: Beban tetap                                          45.000

Laba operasi                                                      $   75.000

Dikurangi: Pajak penghasilan (tarif pajak 35%)    26.250

      Laba bersih                                                         $   48.750

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


·         Titik Impas dalam Dolar Penjualan

Pada beberapa kasus yang menggunakan analisis CVP, manajer mungkin lebih suka menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan daripada unit yang terjual. Suatu ukuran unit yang terjual dapat dikonversikan menjadi suatu ukuran pendapatan penjualan hanya dengan mengalikan harga jual per unit dengan unit yang terjual. Sebagai contoh, titik impas Whittier Company dihitung pada 600 mesin pemotong rumput. Karena harga jual per unit mesin pemotong rumput adalah $400, maka volume impas dalam pendapatan penjualan adalah $240.000 ($400 x 600).

Setiap jawaban yang dinyatakan dalam unit yang terjual dapat secara mudah dikonversi menjadi satu jawaban yang dinyatakan dalam pendapatan penjualan, tetapi jawaban tersebut bisa dihitung secara lebih langsung dengan mengembangkan rumus terpisah untuk kasus pendapatan penjualan. Dalam kasus ini, variabel yang penting adalah dolar penjualan, sehingga pendapatan maupun biaya variabel harus dinyatakan dalam dolar, bukan unit. Karena pendapatan penjualan selalu dinyatakan dalam dolar, maka pengukuran variabel tidak menjadi masalah. Selanjutnya akan dibahas secara lebih mendalam mengenai biaya variabel dan melihat bagaimana biaya tersebut dapat dinyatakan dalam ukuran dolar penjualan.

Untuk menghitung titik impas dalam dolar penjualan, biaya variabel didefenisikan sebagi suatu persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per unit yang terjual. Dapat diilustrasikan mengenai pembagian pendapatan penjualan menjadi biaya variabel dan margin kontribusi sebagai berikut:

Harga adalah $10 dan biaya variabel adalah $6. Tentu saja, sisanya adalah margin kontribusi sebesar $4 ($10 - $6). Jika yang dijual adalah 10 unit, maka total biaya variabel adalah $60 ($6 x 10 unit). Atau, karena setiap unit yang dijual menghasilkan pendapatan sebesar $10 dan membutuhkan biaya variabel $6, maka kita dapat mengatakan bahwa 60 persen dari setiap dolar pendapatan yang dihasilkan diakibatkan oleh biaya variabel ($6/$10). Jadi, dengan memfokuskan pada pendapatan penjualan, kita dapat memperkirakan total biaya variabel sebesar $60 untuk pendapatan $100 (0,60 x $100).

Rasio biaya variable (variable cost ratio) sebesar 60 % pada contoh ini merupakan bagian dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup biaya variable. Rasio biaya variable dapat dihitung dengan menggunakan data total maupun data per unit. Tentu saja, persentase dari dolar penjualan yang tersisa setelah biaya variable tertutupi merupakan rasio margin kontribusi. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian dari setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.

Berikut ini merupakan laporan Laba Rugi dari Whittier Dalam Dolar dan Persentase Penjualan:

                                                                  Dolar               Persentase Penjualan

Penjualan                                                   $400.000                     100,00%

Dikurangi: Biaya Variabel                           325.000                     81,25%

Margin Kontribusi                                         75.000                     18,75%

Dikurangi: Biaya tetap                                  45.000

Laba Operasi                                                 30.000        

Rasio Biaya Variabel adalah 81,25% ($325.000/$400.000). Rasio  margin kontribusi adalah 18,75% ($75.000/$400.000 atau berasal dari 100%-81,25%). Biaya tetap adalah $45.000. Berdasar informasi tersebut, berapakah pendapatan penjualan yang harus dihasilkan Whittier ntuk mencapai titik impas?

Laba Operasi          =   Penjualan – Biaya Variabel – Biaya Tetap

0                             =   (Penjualan – (Rasio Biaya Variabel x Penjualan)) – Biaya tetap

0                             =   Penjualan (1 – Rasio Biaya Variabel) – Biaya Tetap

0                             =   Penjualan (1 – 0,8125) – 45.000

(0,1875)Penjualan = 45.000

Penjualan               =   $240.000

Jadi Whittier harus menghasilan penjualan sejumlah 240.000 untuk mencapai impas. Dengan pendekatan rumus unit impas yang dikembangkan, dapat diperoleh nilai penjualan impas dengan rumus:

Unit Impas       =   Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit)

Jika sisi kiri dan sisi kanan kita kalikan dengan harga, maka sisi kiri Unit Impas x Harga adalah merupakan pendapatan penjualan pada saat impas

Unit Impas x Harga           =    Harga x (Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit))

Penjualan Impas                =    Biaya Tetap x (Harga/ Harga-Biaya Variabel per Unit))

Penjualan Impas                =    Biaya tetap x (Harga/Margin Kontribusi)

Penjualan Impas                =    Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi

Dalam Kasus Whittier, besarnya penjualan yang harus dihasilkan pada titik impas dapat dihitung sebagai berikut:

Penjualan Impas   =     Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi

Penjualan Impas   =     $45.000/0,1875

Penjualan Impas   =     $240.000

2.4.2 Analisis Multiproduk

Analisis biaya volume laba cukup mudah diterapkan dalam pengaturan produk tunggal. Namun, kebanyakan perusahaan memproduksi dan menjual sejumlah produk atau jasa. Meskipun kompleksitas konseptual dari analisis CVP lebih tinggi dalam situasi multiproduk, pengoperasiannya tidak berbeda jauh.

Contoh Whittier Company telah memutuskan untuk menawarkan dua model mesin pemotong rumput, yaitu mesin manual dengan harga $400/unit dan mesin otomatis dengan harga $800/unit. Departemen pemasaran yakin bahwa 1.200 mesin pemotong rumput manual dan 800 mesin pemotong rumput otomatis dapat terjual tahun depan. Proyeksi Laporan Laba Rugi terlihat sebagai berikut:

Mesin Manual

 Mesin Otomatis

 Total

Penjualan

480.000

640.000

1.120.000

Dikurangi: beban Variabel

390.000

480.000

870.000

Margin Kontribusi

90.000

160.000

250.000

Dikurangi: Beban tetap Langsung

30.000

40.000

70.000

Margin Produk

60.000

120.000

180.000

Dikurangi: Beban tetap Umum

         26.250

Laba Operasi

      153.750

Perhatikan bahwa pengawas telah memisahkan beban tetap umum langsung dari beban tetap umum. Beban tetap langsung  (direct fixed expenses) adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri ke setiap produk dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada. Beban tetap umum   adalah biaya tetap yang tidak dapat ditelusuri ke produk dan akan tetap muncul meskipun salah satu produk ditelusuri.

·         Titik Impas dalam Unit

Pengalokasian biaya tetap umum ke setiap lini produk sebelum menghitung titik impas dapat mengatasi kesulitan ini. Permasalahan dalam pendekatan ini adalah alokasi biaya tetap umum bersifat acak. Jadi, tidak ada volume impas yang tampak secara langsung.

Dalam contoh Whittier di atas, jika dihiting unit impas individu dari mesin maual dan mesin otomatis, diperoleh hasil:

Unit impas mesin manual            =      Biaya Tetap/(Harga-Biaya Variabel per unit)

                                                    =      $30.000/$75

                                                    =      400 unit

 

Unit Impas mesin otomatis         =      $40.000/$200

                                                    =      200 unit

 

 

 

 

 

 

 


Jadi, 400 unit mesin manual dan 200 unit mesin otomatis harus dijual untuk mencapai margin produk impas, namun margin produk impas hanya menutup biaya tetap langsung, biaya tetap umum masih belum tertutup. Padahal biaya tetap umum harus diperhatikan untuk mencari titik impas bagi penjualan secara keseluruhan.

Pengalokasian biaya tetap umum ke setiap lini produk sebelum menghitung titik impas dapat mengatasi kesulitan ini, namun permasalahan dalam pendekatan ini adalah alokasi biaya tetap umum yang bersifat acak, jadi tidak ada volume impas yang tampak secara langsung.

Kemungkinan pemecahan lainnya adalah dengan mengkonversikan masalah multiproduk menjadi masalah produk tunggal. Jika hal ini dapat dilakukan, maka seluruh metodologi CVP produk tunggal dapat diterapkan secara langsung. Kunci dari konversi ini adalah dengan mengidentifikasi bauran penjualan yang diharapkan dalam unit dari produk-produk yang dipasarkan. Bauran penjualan (sales mix) adalah kombinasi relative dari berbagai produk yang dijual perusahaan.

·         Penentuan Bauran Penjualan

Bauran penjualan dapat diukur dalam unit yang terjual atau bagian dari pendapatan. Contohnya; Jika Whittier berencana menjual 1.200 mesin pemotong rumput manual dan 800 pemotong rumput otomatis, maka bauran penjualan dalam unit adalah 1.200 : 800, atau 3 : 2.

Bauran penjualan juga dapat dinyatakan dalam persentase dari total pendapatan yang dikontribusikan oleh setiap produk. Pada kasus Whittier, pendapatan mesin pemotong rumput manual adalah $480.000 ($400 x 1.200). dan pendapatan mesin pemotong rumput otomatis adalah $640.000 ($800 x 800).

Pendapatan Mesin pemotong rumput manual             = 480.000/(480.000+640.000)

                                                                                    = 42,86% dari penjualan

Pendapatan mesin pemotong rumut otomatis             = 640.000/(480.000+640.000)

                                                                                    = 57,14% dari penjualan.

Jadi bauran penjualan dalam unit adalah sebesar 3 : 2 atau  60% : 40% yang berarti bahwa Whittier berharap dapat menjual 3 mesin pemotong rumput manual atas setiap penjualan 2 mesin pemotong rumput otomatis. Sedangkan bauran penjualan dalam pendapatan adalah sebesar 42,86% : 57,14% untuk mesin manual dan mesin otomatis. Perbedaan perbandingan iini diakibatkan karena bauran penjualan dalam pendapatan menggunakan bauran penjualan dalam unit dan memberikan bobot menurut harganya masing-masing. Untuk analisis CVP, kita harus menggunakan bauran penjualan yang dinyatakan dalam unit.

·         Bauran Penjualan dan Analisis CVP

Penentuan bauran penjualan terutama memungkinkan kita untuk mengonversi masalah multiprodduk kedalam format CVP produk tunggal. Karena Whittier berharap dapat menjual 3 mesin pemotong rumput manual atas setiap penjualan 2 mesin pemotong rumput otomatis, Whittier bisa mengidentifikasikan produk tunggal yang dijualnya sebagai suatu paket yang berisi tiga mesin pemotong rumput manual dan dua mesin pemotong rumput otomatis.

Dengan menetapkan produk tersebut dalam suatu paket, maslah multiproduk dikonversi menjadi masalah produk tunggal. Untuk lebih jelasnya lihat perhitungan berikut:

Produk (a)

Harga Variabel Per Unit (b)

Biaya Kontribusi Per Unit (c)

Margin Penjualan (d)

Bauran Kontribusi per unit paket (e)

Margin (f) =d x e

Manual

400

325

75

3

225

Otomatis

800

600

200

2

400

Total Paket

625

Berdasar margin kontribusi per paket di atas, persamaan dasar impas dapat digunakan untuk menentukan jumlah paket yang harus dijual Whittier pada titik impas.

Paket Impas    =          Total Biaya Tetap/Margin Kontribusi Per Paket

                        =          (70.000+26.250)/625

                        =          154 paket

 

Jadi, Whittier harus menjual

Unit mesin manual      =          154 x 3           

                                    =          462 unit

Unit mesin otomatis    =          154 x 2

                                    =          308 unit

Kelemahan metode ini yaitu sulit digunakan untuk perusahaan dengan banyak jenis produk. Cara mengatasinya antara lain dengan:

a.      Melakukan penyederhanaan yaitu dengan menganalisis kelompok produk, bukan individu produk, atau

b.      Menggunakan pendekatan pendapatan penjualan.

·         Pendekatan Dolar Penjualan

Titik impas dalam dolar penjualan secara implisit menggunakan asumsi bauran penjualan, tetapi mengabaikan persyaratan penghitungan margin kontribusi per paket. Tidak ada pengetahuan terhadap data produk individual yang diperlukan. Upaya perhitungannya mirip dengan yang digunakan dalam pengaturan produk tunggal. Selain itu, jawabannya masih dinya