4 PERISTIWA PENTING EKONOMI INDONESIA SEPANJANG TAHUN 2018

Pergantian tahun menuju tahun berikutnya pastinya menorehkan peristiwa penting. berbagai peristiwa menarik pada sektor ekonomi sepanjang 2018 telah menjadi catatan untuk masa mendatang. Berikut beberapa catatan ekonomi nasional yang paling menyedot perhatian dan berhasil dihimpun oleh MoneySmart.id.

1. Tingkat Kemiskinan Indonesia Terendah sejak 1999

Tigkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat kemiskinan per Maret 2018 mencapai 9,82 persen dari total populasi penduduk sebanyak 265 juta jiwa.

Jika dihitung secara matematika, jumlah penduduk miskin pada tahun 2018 mencapai 25,95 juta jiwa. Angka itu turun 10,12 persen dibandingkan periode September 2017 yang mencapai 26,58 juta jiwa dari total populasi penduduk.

Tapi, Kepala BPS Suhariyanto menegaskan, besaran jumlah penduduk kategori miskin masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting dan perlu diselesaikan. Sebab, angka sebesar 25,95 juta jiwa bukanlah jumlah yang sedikit.

“Caranya dengan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran sehingga penurunan kemiskinannya bisa cepat, beberapa tahun belakangan ada penurunan tapi sangat lamban. Tapi ini persentase kemiskinan yang paling rendah, meski jumlahnya masih banyak,” kata Suhariyanto.

2. Utang Indonesia Capai Rp 5.371 Triliun

Pada akhir September 2018, Bank Indonesia (BI) mencatat total utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 359,8 miliar atau sekitar Rp 5.371 triliun. Dengan kurs rupiah pada akhir September 2018 Rp 14.929 per dollar AS.

Dari data statistik utang luar negeri Indonesia, total utang luar negeri tumbuh sebesar 4,2 persen secara tahunan. Mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,6 persen secara tahunan.

Perlambatan tersebut terjadi pada utang luar negeri Pemerintah yang hanya tumbuh 2,2 persen secara tahunan menjadi US$ 176,1 miliar.

“Hal ini turut dipengaruhi oleh kondisi pasar SBN dalam negeri yang terimbas tingginya ketidakpastian global,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, BI memastikan perkembangan utang tersebut masih tetap terkendali dalam sturktur utang yang sehat. Hal ini terlihat dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal III 2018 yang tercatat stabil di kisaran 34 persen.

“Rasio tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara kebanyakan. Di samping itu, struktur utang luar negeri Indonesia tetap didominasi utang luar negeri berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,8 persen dari total utang luar negeri,” Papar Agusman.

3. Indonesia Rajin Impor, Sulit Ekspor

Dalam hal perdagangan antar negara, pada tahun 2018 ini Indonesia lebih rajin melakukan impor ketimbang mengekspor produk dalam negeri kepada pasar global.

Dari data BPS, sepanjang periode Januari hingga Oktober 2018 total ekspor Indonesia sebesar US$ 150,88 miliar atau naik 8,84% dibanding tahun 2017. Sedangkan impor mencapai US$ 156,40 miliar atau naik 23,37% dibanding tahun lalu.

Hal inilah yang menyebabkan defisit neraca perdagangan Indonesia selama periode Januari hingga Oktober 2018 US$ 4,52 miliar.

4. Dollar Meningkat Tajam, Rupiah Keok

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2018 menyedot perhatian publik.

Sebab, pada awal tahun 2018 lalu, nikai tukar rupiah terhadap dollar AS masih berada pada level Rp 13.500 per dollar AS. Namun sepanjang perjalanan tahun 2018 nilai tukar rupiah terus menurun atau terdepresiasi hingga menyentuh level Rp 14.000 pada Mei 2018.

Bahkan pada bulan Oktober 2018 nilai tukar rupiah mencapai level yang cukup rendah hingga mencapai Rp 15.000 sampai Rp 15.200 per dollar AS.

Nilai tukar yang menyentuh level Rp 15.000 per dollar AS, disebut mencapai titik terendah sejak krisis moneter pada tahun 1998.

 

Sumber : www.moneysmart.id