Usada Netra

Berbagai sistem pengobatan tradisional telah berkembang sejak zaman dahulu di masing-masing daerah di Indonesia termasuk di Bali. Kekayaan budaya masyarakat Bali mengenai pengobatan tradisional (indigenous medicinal knownledge) terdapat dalam lontar Usada Bali. Lontar Usada Bali adalah manuskrip yang berisi sistem pengobatan bahan obat dan cara pengobatan tradisional yang memiliki arti dan posisi penting dalam khasanah pengobatan tradisional. Lontar usada juga merupakan cermin bagaimana umat Hindu di Bali percaya bahwa sakit adalah kehendak Sang Hyang Widhi, sebesar kepercayaan mereka bahwa pengobatan dengan cara usada adalah juga wujud kebesaran Sang Hyang Widhi yang mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit (Dinkes Prov. Bali, 2008).

Kata usada berasal dari bahasa sansekerta “Ausadhi” yang berarti tumbuh-tumbuhan yang mengandung khasiat obat-obatan. Pengetahuan ini berasal dari India yang menyebar ke Bali seiring dengan perkembangan agama Hindu pada abad ke-5 M. Lontar usada ditulis diatas daun lontar atau siwalan. Daun lontar tersebut dibuat berbentuk segi empat panjang dengan ukuran 3,5 x 35 cm. (Dinkes Prov. Bali, 2008).

Di beberapa daerah kata Usada ini telah dijadikan bahasa Bali, sehingga menjadi wisada, yang berarti ubad, tamba, atau obat. Lontar Usada yaitu lontar yang menguraikan tentang penyakit, nama-nama penyakit, pemberian obat penyembuhan dengan cara-caranya. Di Propinsi Bali diperkirakan terdapat kurang lebih 50.000 buah Lontar Usada yang tersebar di seluruh desa-desa yang ada, dan beberapa ribu diantaranya telah disimpan di Gedung Kirtya Singaraja, Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Pusat Dokumentasi Pemda Tingkat I Bali di Denpasar.  Contoh usada Bali diantaranya usada tua, usada rare, usada buduh, usada upas, usada netra, usada kuranta bolong, dan lain-lain. Masing-masing jenis usada tersebut mempunyai keunikan berbagai cara mendiagnosa penyakit, jenis tumbuhan yang digunakan, cara meracik dan berbagai sarana pendukung serta serangkaian upacara yang berkaitan dengan pencegahan, pengobatan, dan pemulihan dari satu sisi penyakit. (Dinkes Provinsi Bali, 2008).

Bagian-bagian dari tumubuhan yang digunakan dalam pengobatan bermacam-macan mulai dari daun, bunga, buah, biji, kulit batang, getah, akar, rimpang maupun keseluruhan bagian tumbuhan tersebut. Cara penggunaan obat yang terdapat dalam Lontar Usada, pada umumnya dilakukan secara tradisional seperti dijadikan loloh/obat minum, tutuh (pemberian obat dengan jalan mengisap cairan melalui hidung atau dengan meneteskan pada hidung), berupa boreh/parem, urap/usug/obat gosok, ada pula yang berupa minyak yang dioleskan pada tubuh.

Usada Netra membahas berbagai penyakit yang dapat terjadi pada manusia dan pengobatannya. Pengobatan Usada Netra didasarkan atas pengalaman, sabda atau wahyu dengan memanfaatkan tanaman-tanaman, mantra serta rajahan atau lukisan untuk mengobati berbagai penyakit. Ditinjau dari namanya, Usada Netra merupakan ilmu pengobatan untuk penyakit mata. Namun, pada kenyataannya dalam Usada Netra tidak hanya penyakit mata yang dicantumkan, melainkan terdapat pengobatan pada penyakit perut, penyakit kepala, penyakit dengan gejala panas/dingin, penyakit menggigil, penyakit dalam dengan gejala letih, penyakit luka, gatal-gatal, dan koreng, penyakit pada bayi, bahkan untuk pengobatan untuk gigitan binatang berbisa. (Dinkes Prov. Bali, 2008).

Pada Usada Netra, tidak hanya membahas tentang tanaman, cara pengolahan serta penggunaan dari obat-obatan tersebut, melainkan juga menjelaskan tentang mantra-mantra, rajahan/simbol, dan sesajen yang digunakan untuk mendukung jalannya pengobatan. Disini juga menjelaskan tentang penanganan bayi sejak baru lahir hingga perawatannya, serta pengetahuan tentang ilmu tenung atau ramal. (Dinkes Prov. Bali, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan provinsi Bali. 2008. Himpunan Usadha I. Denpasar: Departemen Kesehatan Provinsi Bali.