Usada Rukmini Tatwa

Kata usada berasal dari kata ausadhi (bahasa sansekerta) yang berarti tumbuh-tumbuhan yang mengandung khasiat obat-obatan.Kata usada ini tidaklah asing bagi masyarakat Bali, karena kata usada sering dipergunakan dalam percakapan sehari-hari dalam kaitan dengan mengobati orang yang sakit.Di beberapa daerah kata usada ini telah dibalikan, sehingga menjadi wisada, yang berarti ubad, tamba atau obat (Nala, 1996).

Masyarakat di Bali masih percaya bahwa pengobatan dengan cara usada banyak maanfaatnya untuk menyembuhkan orang yang sakit. Walaupun telah banyak ada pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) tersebar merata di setiap kecamatan, berobat ke Battra (pengobat tradisional., di Bali terkenal dengan sebutan balian, tapakan atau jero dasaran), masih merupakan pilihan yang tidak dapat dikesampingkan begitu saja, baik bagi orang desa maupun orang kota (Nala, 1996).

Menurut kepercayaaan dan keyakinan masyarakat di Bali, penyakit dapat disebabkan oleh dua penyebab kausa, yakni kausa sekala (naturalistik) dan kausa niskala(personalistik).Kausa sekala adalah penyebab sakit yang tampak, nyata dan berwujud, misalnya, luka terkena pisau, pilek karena kehujanan dan patah tulang karena jatuh. Sedangkan kausa niskala adalah penyebab sakit yang tidak tampak, tidak nyata dan tanpa wujud yang pasti, misalnya, badan bengkak tanpa sebab yang diketahui, kulit pipi sebelah tertarik keatas sehingga bibir atau mulut menjadi miring tanpa sebab dan berbagai penyakit lainnya yang tidak diketahui penyebabnya (Nala, 1996).

Penyembuhan penyakit dengan kausa sekala (naturalistik), masyarakat akan mencari pertolongan ke pengobat tradisional atau ke pengobat modern. Bagi mereka, siapapun yang mengobati pasti akan mampu menyembuhkannya karena penyebabnya jelas dan tampak. Sedangkan penyakit yang mempunyai kausa niskala (personalistik), masyarakat yakin bahwa hanya orang yang mempunyai kekuatan magis yang tinggi yang mampu mengusir kausa ini (Nala, 1996).Sumber ajaran ilmu pengobatan tradisional Bali adalah lontar.Lontar Usada berisi tentang cara memeriksa pasien, memperkirakan penyakit (diagnosa), meramu obat (farmasi), mengobati (terapi), memperkirakan jalannya penyakit (prognosis), upacara yang berkaitan tentang masalah pencegahan (preventif), dan pengobatan (kuratif) (Nala, 1993).

Di sejumlah daerah di Bali diperkirakan cukup banyak tersebar naskah lontar usada. Menurut Nala (1993), diperkirakan terdapat kurang lebih 50.000 lontar usada yang tersebar di seluruh desa di pulau Bali. Beberapa macam naskah usada tersebut diantaranya Usada Buduh, Usada Dalem, Usada Edan, Usada Mala, Usada Rare, Usada Sasah Bebai, Usada Tiwang, Usada Tiwas Punggung, Usada Tetengger Beling, Usada Tumbal., Usada Upas, Usada Taru Premana, dan Usada Rukmini Tatwa(Nala, 1993).

Agama Hindu mengajarkan agar umat Hindu mengarahkan tujuan hidupnya pada empat tujuan hidup yang disebut Dharma, Artha, Kama, dan Moksha.Kama adalah dorongan hidup atau keinginan yang harus diwujudkan. Libido seksual adalah salah satu ekspresi kama. Untuk memenuhi libido seksual harus diikuti arahan pikiran dan kesadaran budi. Pikiran dan kesadaran budi itu akan dengan kuat mengarahkan dorongan seksualitas jika pikiran dan kesadaran budi itu dicerahkan ajaran suci sabda Tuhan. Tentang pemenuhan libido seksual., para Rsi Hindu telah menghasilkan ajaran sastra yang dilahirkan dan sabda suci Weda.Ajaran tentang pengendalian seks itu dituangkan dalam berbagai pustaka. Dalam lontar di Bali ada berbagai pustaka yang mengajarkan bagaimana norma pengendalian seksualitas. Salah satunya adalah Rukmini Tatwa (Nala,1993).

Seorang Wanita atau istri yang ingin tetap rumah tangganya harmonis, tentu akan merawat tubuhnya agar kelihatan cantik dan segar, serta berpenampilan lebih menarik di mata suaminya. Banyak wanita Bali tidak mau merawat tubuhnya setelah melahirkan, dibiarkan begitu saja.Sang Rukmini tidak ingin kelihatan pudar dan loyo di mata suaminya. Maka ia pun bertanya kepada Bhatari Saci cara-cara untuk dikasihi oleh suaminya. Bhatari Saci, istri Bhatara Indra pun bersabda, “Adapun halangan dalam hidup bersuami istri, tidak tahu cara merawat diri, karenanya tidak dikasihi suaminya. Ini resep untuk menjadi seperti gadis: lemak bulus, minyak wijen, itu membuat kelamin perempuan menjadi kenyal. Itulah kegunaan minyak, bagi para wanita, sekalipun kelamin sudah melebar, akan kembali seperti gadis”. Dalam Rukmini Tatwaini isinya tidak hanya tentang merawat tubuh dan kelamin wanita, tetapi banyak mengangkat cara merawat agar kelamin laki-laki menjadi tegang, besar dan panjang, ejakulasi dini, impoten, penyakit kelamin, menyuburkan sperma yang encer hingga cara memperoleh keturunan (Jumadiah, 2007).

Beberapa bentuk, pengolahan dan cara penggunaan obat dalam Rukmini, antara lain:

1.    Boreh

Boreh dapat disamakan dengan parem, berbentuk serbuk halus, dalam penggunaannya dicampur dengan cairan (air, cuka, arak atau alkohol/ditentukan).Cara membuat adalah bahan-bahan dihaluskan tidak perlu diperas kemudian dicampur dengan cairannya. Aturan pemakaiannya: selesai diolah langsung diparemkan pada anggota badan, tidak dibagian perut. Kadang sebelum digunakan didadah atau dipanaskan terlebih dahulu.

2.    Loloh

Cairan sari pati yang lebih pekat, cara pengolahannya: kecuali bahan lain terlebih dahulu digiling tidak perlu sampai halus, diremas-remas kemudian diperas serta disaring. Campurkan dengan cairan yang telah ditentukan kemudian ditambahkan sedikit garam, siap diminum tapi bila perlu diminum hangat harus didadah atau sekeb.Pembuatannya dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu bahan yang telah digiling ditim (bungkus dengan daun pisang dan dikukus) kemudian ditambuh. Pemakaiannya dengan cara diminum.

 

3.    Uap atau Urap

Bentuk uap atau urap hampir sama dengan boreh, cara membuat seperti tutuh dan boreh. Aturan pemakaiaan: dengan menggunakan tangan urapkan pada kulit bagian badan yang dirasa sakit.

 

4.    Ses atau cairan pembersih luka

Berupa cairan sebagai pencegah infeksi, cara membuat bahan direbus dalam air kemudian setelah mendidih didinginkan terlebih dahulu, kemudian digunakan dengan cara menyiram bagian luka.

 

5.    Oles

Bentuk dan cara pengolahannya sama dengan urap atau lumur, tapi saat menggunakan dengan memakai alat berupa lidi atau bulu ayam.

 

6.    Obat sembur

Bahan ramuan dikunyah setelah lumat langsung disemburkan pada bagian yang sakit.

 

7.    Obat tampel atau tempel (jika diubun-ubun disebut pupuk)

Bentuk dan pengolahan seperti boreh tapi lebih padat dan cara pemakaian dengan ditempelkan kebagian yang sakit, biasanya dipusat nadi.

(Sutara, 2007)

 

DAFTAR PUSTAKA

Jumadiah, S. 2007. Rukmini Tatwa Usadha Perawatan Tubuh. Denpasar: Yayasan Dharma Pura. Hal. 1-48.

Nala, N. 1993. Usada Bali. Denpasar : PT. Upada Sastra. Hal. 1-5, 18-19.

Nala, N. 1996. Usada Bali. Denpasar : PT. Upada Sastra. Hal. 1-5.

Sutara, P. K. dan A. Kriswiyanti. 2007. Bahan Ajar Etnofarmasi. Jimbaran : FMIPA UNUD.